Baru-baru ini saya mendapatkan revelation yang sama dan terus-menerus seakan-akan Tuhan ingin mengingatkan betapa kecilnya saya dan betapa besarnya Dia. Kalau kita berpikir dan melihat dunia, banyak sekali masalah yang tidak ada habis-habisnya. Menurut saya, pilihannya hanya dua: berbuat sesuatu tentang itu atau berdiam diri karena merasa semuanya sudah hopeless. Lalu saya memilih untuk mencoba berbuat sesuatu. Tetapi justru disinilah munculnya masalah baru. Karena saya merasa perlu berbuat sesuatu, muncullah perasaan bersalah sewaktu saya tidak melakukan apa-apa. Bukankah kita sering merasa begitu? Kita harus melakukan sesuatu! Kita tidak bisa berdiam diri! Tapi kenyataannya kita tidak selalu bisa melakukan sesuatu.
Sebagai orang muda yang sering disebut orang sebagai “idealis”, memang kita punya banyak sekali tenaga dan hasrat untuk mengubah dunia ini. Sehingga akhirnya pada saat kita tidak bisa mengubah dunia, kita merasa bersalah dan tidak berguna. Tetapi yang lebih berbahaya adalah sewaktu kita merasa kita telah melakukan sesuatu untuk membawa dampak, melakukan perubahan. Kemudian kita lupa bertanya untuk apa kita lakukan semua ini? Untuk Siapa lakukan semua ini? Apakah hanya demi merasa berguna? demi membuat perubahan sehingga dunia ini tidak begitu-begitu saja? Dengan lupa menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, mudah sekali kita sebagai Christian untuk terjebak dalam aksi-aksi membawa dampak yang sebenarnya merupakan usaha yang sia-sia jika motivasi itu tidak datang dari Tuhan.
Memang kita sering bilang, “Gw lakukan ini buat Tuhan kok.” Tapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar melakukannya untuk Tuhan? Itulah pertanyaan saya akhir-akhir ini. Kebetulan saya juga memiliki kelompok kecil yang sama-sama memiliki hasrat untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan. Sekitar 6 bulan kami mencoba memikirkan soal visi dari grup kami, mau kami bawa kemana grup kami ini. Sampai pada satu titik dimana kami sadar kalau kami mencoba mencari tahu kehendak Tuhan tapi kami melupakan satu hal yang paling crucial, berdoa. Padahal seperti yang dikatakan Francis Schaeffer, “the Lord’s work should be done in the Lord’s way.” Jadi ironis sekali kalau kita memikirkan bagaimana caranya untuk membawa dampak, menjadi garam dan terang di dunia ini tapi tidak memulainya dengan doa.
Sebenarnya yang paling menggelitik pikiran saya bukanlah fakta bahwa kami tidak memulai pemikiran itu dengan doa dan mencoba mencari kehendak Tuhan lewat doa, tetapi kenyataan bahwa manusia itu sangat rapuh. Kita mudah sekali terjebak di blindspot kita sendiri. Contohnya untuk doa ini, saya sering merasa kalau berdoa hanyalah aktivitas yang kurang produktif, saya harus melakukan sesuatu. Atau kadang saya juga takut saya jadi terlalu rohani dan ini hanya menjadi excuse untuk saya tidak berbuat sesuatu. Padahal kalau dipikir-pikir, logika ini terbalik. Justru dengan doa, hubungan yang baik dengan Tuhan, kita menjadi lebih peka terhadap panggilan Tuhan dalam diri kita. Seperti yang Yesus katakan, “I am the vine; you are the branches. If you remain in me and I in you, you will bear much fruit; apart from me you can do nothing.” Sebenarnya kalau direnungkan, kebenaran ini sangatlah sederhana. Tetapi entah kenapa naluri manusia itu seperti alergi untuk wait upon the Lord. Seringkali kita lupa diri, bukannya menjadi Mary kita malah menjadi Martha. Lalu sewaktu pelan-pelan kita menjadi Martha, kita sering tidak sadar kalau kita sudah menjadi Martha dan masih berpikir kalau kita adalah Mary. Benar-benar terlihat sekali rapuhnya manusia kalau kita berpikir tentang hal ini.
Oleh karena itu, saya jadi berpikir, “Bagaimana ya caranya mengatasi blindspot ini?” lalu saya teringat kaca spion khusus untuk blindspot yang dipasang di mobil. Kita perlu kaca seperti itu untuk melihat blindspot dalam diri kita. Itu artinya kita perlu menyadari bahwa kita adalah manusia yang fallen yang memiliki blindspot, sehingga kita perlu terus-menerus bercermin pada Firman Tuhan dan bertobat senantiasa lewat doa atas kejatuhan kita ke dalam blindspot kita. Lalu kita juga perlu komunitas yang saling menjaga satu sama lain untuk tidak terjatuh ke dalam blindspot masing-masing atau bila kita terjatuh, ada orang yang dapat menyadarkan kita bahwa kita sudah masuk ke blindspot kita. Maka sewaktu kita mulai malas untuk berdoa, merenungkan Firman Tuhan, dan bergabung dalam komunitas untuk senantiasa diingatkan dan mengingatkan; mungkin kita perlu menyadari bahwa kita telah sengaja membuang kaca spion blindspot dari mobil kita. Itulah yang menjadi refleksi saya akhir-akhir ini.